Minggu, 27 Mei 2012

ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA (APBN)


ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA  (APBN)

1.  Perkembangan  Dana Pembangunan Indonesia

Dari segi perencanaan pembangunan di Indonesia, APBN adalah konsep perencanaan pembangunan yang memiliki jangka pendek, karena itulah APBN selalu disusun setiap tahun. Secara garis besar APBN terdiri dari pos-pos sebagai berikut:

-         Dari sisi penerimaan, terdiri dari pos penerimaan dalam negeri dan penerimaan pembangunan,

-         Sedangkan dari sisi pengeluaran terdiri dari pos pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan.

APBN disusun agar pengalokasian dana pembangunan dapat berjalan dengan memperhatikan prinsip berimbang dan dinamis. Hal tersebut perlu diperhatikan mengingat tabungan pemerintah yang berasal dari selisih antara penerimaan dalam negeri dengan pengeluaran rutin belum sepenuhnya menutupi kebutuhan biaya pembangunan di Indonesia.



2.  Proses Penyusunan Anggaran

Anggaran merupakan sejumlah uang yang dihabiskan dalam periode tertentu untuk melaksanakan suatu program.



Tujuan penyusunan anggaran adalah sebagai pedoman pendapatan dan pembelajaan negara dalam melaksanakan tugas kenegaraan untuk meningkatkan produksi dan kesempatan kerja dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran masyarakat.
Prinsip penyusunan APBN dan APBD di jelaskan melalui 2 (dua) aspek, yaitu sebagai berikut:
a. Berdasarkan Aspek Pendapatan

-         Mengintensifkan penerimaan sektor anggaran dalam jumlah dan ketepatan penyetoran

-         Mengintensifkan pengeluaran dan pemungutan piutang Negara

-          Mengintensifkan tuntutan ganti rugi yang di derita oleh negara dan denda yang di janjikan

b. Berdasarkan Aspek Pengeluaran Negara

-         Hemat,tidak boros,efisien, dan berdaya guna sesuai dengan ketentuan tehnis yang ada

-         Terarah dan terkendali sesuai dengan anggaran dan program kegiatan

-          Mengusahakan semaksimal mungkin membeli produk - produk dalam negeri



3.  Perkiraan Penerimaan Negara

Secara garis besar sumber penerimaan Negara berasal dari :

a.       Penerimaan dalam negeri

Pada masa setelah orde baru penerimaan cukup besar diterima dari hasil ekspor minyak bumi dan gas alam.

b.      Penerimaan pembangunan
Meskipun telah ditempuh berbagai upaya untuk meningkatkan tabungan pemerintah,namun karena laju pembangunan yang demikian cepat,maka dana tersebut masih perlu dilengkapi dengan dan ditunjang dengan dana yang berasal dari luar negeri.Meskipun untuk selanjutnya bantuan luar negeri (hutang bagi Indonesia) tersebut makin meningkatnya jumlahnya,namun selalu diupayakan suatu mekanisme pemanfaatan dengan prioritas sektor-sektor yang lebih produktif.Dengan demikian bantuan luar negeri tersebut dapat dikelola dengan baik (terutama dalam hal pengembalian cicilan pokok dan bunganya).



4.  Perkiraan Pengeluaran

Secara garis besar,pengeluaran Negara dikelompokkan menjadi dua yakni.

a.    Pengeluaran rutin, pengeluaran rutin Negara adalah pengeluaran yang dapat dikatakan selalu ada dan telah terencana sebelumnya secara rutin,diantaranya:

-         Pengeluaran untuk biaya pegawai

-         Pengeluaran untuk belanja barang

-         Pengeluaran untuk subsidi daerah otonom

-         Pengeluaran untuk membayar bunga dan cicilan hutang

-         Pengeluaran lain-lain

b.    Pengeluaran pembangunan
Secara garis besar,yang termasuk dalam pengeluaran pembangunan diantaranya adalah:

-         Pengeluaran pembangunan untuk berbagai departemen/ lembaga Negara,diantaranya untuk membiayai proyek-proyek pembangunan sektorial yang menjadi tanggung jawab masing-masing departemen/ lembaga Negara bersangkutan,

-         Pengeluaran pembangunan untuk anggaran pembangunan daerah (Dati I dan II)

-         Pengeluaran pembangunan lain-lain.



5.  Dasar Perhitungan Perkiraan Penerimaan Negara

Untuk memperoleh hasil perkiraan penerimaan Negara, ada beberapa hal pokok yang harus diperhatikan.Hal-hal tersebut adalah:



Ø  Penerimaan Dalam Negeri dari Migas
Faktor-faktor yang dipertimbangkan adalah :

·         Produksi minyak rata-rata per hari

·         Harga rata-rata ekspor minyak mentah

Ø  Penerimaan Dalam Negeri diluar Migas,
Faktor-faktor yang dipertimbangkan adalah :

·         Pajak penghasilan

·         Pajak pertambahan nilai

·         Bea masuk

·         Cukai

·         Pajak ekspor

·         Pajak bumi dan bangunan

·         Bea materai

·         Pajak lainnya

·         Penerimaan bukan pajak

·         Penerimaan dari hasil penjualan BBM



Sumber :










http://haris14.wordpress.com/2011/05/16/perkiraan-pengeluaran-negara/







STRUKTUR PRODUKSI, DISTRIBUSI PENDAPATAN DAN KEMISKINAN


STRUKTUR PRODUKSI, DISTRIBUSI PENDAPATAN DAN KEMISKINAN

1. Struktur Produksi

Struktur produksi adalah logika proses produksi, yang menyatakan  hubungan antara beberapa pekerjaan pembuatan komponen sampai menjadi produk  akhir, yang biasanya ditunjukkan dengan menggunakan skema.

Sejalan dengan perkembangan  pembangunan ekonomi struktur produksi suatu perekonomian cenderung mengalami perubahan dari dominasi sektor primer menuju dominasi sektor sekunder dan tersier. Perubahan struktur produksi dapat terjadi karena :

1.     Sifat manusia dalam perilaku konsumsinya yang cenderung berubah dari konsumsi barang barang pertanian menuju konsumsi lebih banyak barang-barang industri

2.    Perubahan teknologi yang terus-menerus, dan

3.    Semakin meningkatnya keuntungan komparatif dalam memproduksi barang-barang industri.

Struktur produksi nasional pada awal tahun pembangunan jangka panjang ditandai oleh peranan sektor primer, tersier, dan industri. Sejalan dengan semakin meningkatnya proses pembangunan ekonomi maka pada akhir Pelita V atau kedua, struktur produksi nasional telah bergeser dari dominasi sektor primer menuju sektor sekunder.

2. Pendapatan Nasional

Pendapatan nasional adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh seluruh rumah tangga keluarga (RTK) di suatu negara dari penyerahan faktor-faktor produksi dalam satu periode,biasanya selama satu tahun.

Konsep pendapatan nasional:

1.  Produk Domestik Bruto (GDP)

Produk domestik bruto (Gross Domestic Product) merupakan jumlah produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) selama satu tahun. Dalam perhitungan GDP ini, termasuk juga hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan/orang asing yang beroperasi di wilayah negara yang bersangkutan. Barang-barang yang dihasilkan termasuk barang modal yang belum diperhitungkan penyusutannya, karenanya jumlah yang didapatkan dari GDP dianggap bersifat bruto/kotor.

2.  Produk Nasional Bruto (GNP)

Produk Nasional Bruto (Gross National Product) atau PNB meliputi nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu negara (nasional) selama satu tahun.

3.  Pendapatan Nasional Neto (NNI)

Pendapatan Nasional Neto (Net National Income) adalah pendapatan yang dihitung menurut jumlah balas jasa yang diterima oleh masyarakat sebagai pemilik faktor produksi. Besarnya NNI dapat diperoleh dari NNP dikurang pajak tidak langsung. Yang dimaksud pajak tidak langsung adalah pajak yang bebannya dapat dialihkan kepada pihak lain seperti pajak penjualan.

4.  Pendapatan Perseorangan (PI)

Pendapatan perseorangan (Personal Income) adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh setiap orang dalam masyarakat, termasuk pendapatan yang diperoleh tanpa melakukan kegiatan apapun.

5.  Pendapatan yang siap dibelanjakan (DI)

Pendapatan yang siap dibelanjakan (Disposable Income) adalah pendapatan yang siap untuk dimanfaatkan guna membeli barang dan jasa konsumsi dan selebihnya menjadi tabungan yang disalurkan menjadi investasi.

Pendapatan negara dapat dihitung dengan tiga pendekatan, yaitu:

1.     Pendekatan pendapatan, dengan cara menjumlahkan seluruh pendapatan (upah, sewa, bunga, dan laba) yang diterima rumah tangga konsumsi dalam suatu negara selama satu periode tertentu sebagai imbalan atas faktor-faktor produksi yang diberikan kepada perusahaan.

2.    Pendekatan produksi, dengan cara menjumlahkan nilai seluruh produk yang dihasilkan suatu negara dari bidang industri, agraris, ekstraktif, jasa, dan niaga selama satu periode tertentu. Nilai produk yang dihitung dengan pendekatan ini adalah nilai jasa dan barang jadi (bukan bahan mentah atau barang setengah jadi).

3.    Pendekatan pengeluaran, dengan cara menghitung jumlah seluruh pengeluaran untuk membeli barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara selama satu periode tertentu. Perhitungan dengan pendekatan ini dilakukan dengan menghitung pengeluaran yang dilakukan oleh empat pelaku kegiatan ekonomi negara, yaitu: Rumah tangga (Consumption), pemerintah (Government), pengeluaran investasi (Investment), dan selisih antara nilai ekspor dikurangi impor ( ).



3. Distribusi Pendapatan Nasional dan Kemiskinan



Dalam distribusi pendapatan baik antar kelompok berpendapatan, antar daerah perkotaan dan daerah pedesaan, atau antar kawasan dan propinsi dan kemiskinan merupakan dua masalah yang masih mewarnai perekonomian Indonesia.
Pada awal pemerintahan orde baru, perencanaan pembangunan ekonomi di Indonesia masih sangat percaya bahwa apa yang dimaksud dengan trickle down effect akan terjadi. Oleh karena itu, strategi pembangunan diterapkan oleh pemerintah pada awal periode orde baru hingga akhir tahun 1970-an terpusatkan pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Faktor-faktor yang menyebabkan kesenjangan dan kemiskinan tetap ada ditanah air walaupun pembangunan ekonomi berjalan terus dan Indonesia memiliki laju pertumbuhan yang relatif tinggi.

Beberapa indikator distribusi pendapatan :
Sudah merupakan suatu fakta umum dibanyak negara berkembang, terutama negara-negara proses pembangunan ekonomi yang sangat pesat seperti indonesia, laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi dibarengi dengan tingkat kesenjangan ekonomi atau kemiskinan yang tinggi pula.
Sebagai dasar dari kerangka pemikiran untuk menganalisis masalah trade-off antara pertumbuhan dan kemiskinan atau kesenjangan ekonomi adalah salah satu metode statis yang umum digunakan untuk mengestimasi sejauh mana pencapaian tingkat kemerataan dalam distribusi pendapatan atau pengurangan kesenjangan ekonomi dalam suatu proses pembangunan ekonomi.  Pengukuran pemerataan pendapatan juga sering dilakukan berdasarkan kriteria bank dunia : penduduk dikelompokkan menjadi tiga kelompok:  yaitu penduduk dengan pendapatan rendah yang merupakan  40% dari jumlah penduduk, penduduk dengan berpendapatan menengah yang merupakan 40% dari jumlah penduduk, dan penduduk yang berpendapatan tinggi yang merupakan 20% dari jumlah penduduk. Selanjutnya ketidakmerataan pendapatan disuatu ekonomi diukur berdasarkan pendapatan yang dinikmati oleh 40% penduduk dengan pendapatan rendah.

Perubahan distribusi pendapatan

Perhitungan distribusi pendapatan di Indonesia menggunakan data survei sosial ekonomi nasional (susenas) pada tahun 1984, 1987, 1990, 1993. data pengeluaran konsumsi rumah tangga yang dikumpulakan oleh susenas digunakan sebagai pendekatan (proxy) untuk mengukur distribusi pendapatan penduduk di Indonesia. Karena pengertian pengeluaran konsumsi tidak sama dengan pengertian kekayaan, perbedaan konsep ini menjadi kendala serius dalam mengukur secara akurat tingkat dan distribusi kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Penggunaan data pengeluaran konsumsi rumah tangga akan menghasilkan data pendapatan yang underestimate karena jumlah pendapatan bisa lebih besar, sama, atau lebih kecil dari pada jumlah pengeluaran konsumsi. Misalnya pendapatan lebih besar tidak selalu berarti pengeluaran konsumsi juga besar. Dalam hal ini, berarti ada tabungan. Dalam hal ini belum tentu juga bila pendapatan rendah tidak selalu jumlah konsumsi juga rendah. Banyak rumah tangga memakai kredit untuk membiayai pengeluran konsumsi tertentu, misalnya untuk membeli rumah dan mobil untuk biaya sekolah anak, atau bahkan untuk liburan.
Keberhasilan pembangunan di Indonesia tidak hanya di ukur dari peningkatan pendapatan penduduk secara agregat atau per kapital, tetapi juga (justru lebih penting lagi) di lihat dari distribusi peningkatan pendapatan tersebut terhadap semua anggota masyarakat. Sekarang ini, tingkat pendapatan per kapital di Indonesia sudah lebih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 30 tahun yang lalu, yakni sekitar US$880. namun, apa artinya jika 10% saja dari jumlah penduduk di tanah air yang menikmati 90% dari jumlah pendapatan nasional, sedangkan sisanya (90%) hanya menikmati 10% dari pendapatan nasional selama ini hanya di nikmati oleh kelompok 10% tersebut, sedangkan pendapatan kelompok 90% tidak mengalami perbaikan yang berarti. Jadi dalam kata lain, pembangunan ekonomi di Indonesia akan dikatakan berhasil sepenuhnya bila tingkat kesenjangan ekonomi antara kelompok masyarakat miskin dan kelompok masyarakat kaya bisa diperkecil
Sejak akhir tahun 1970-an, pemerintah mulai memperlihatkan kesungguhan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan penduduk ditanah air. Sejak itu aspek pemerataan dalam triologi pembangunan semakin ditekankan dan didefinisikan dalam delapan jalur pemerataan.

Kemiskinan

Pengertian:

Specker (1993) mengatakan bahwa kemiskinan mencakup: kekurangan fasilitas fisik bagi kehidupan yang normal, gangguan dan tingginya resiko kesehatan, resiko keamanan dan kerawanan kehidupan social ekonomi dan lingkungannya, kekurangan pendapatan yang mengakibatkan tidak bias hidup layak, kekurangan dalam kehidupan social yang dapat ditunjukan oleh ketersisihan social dalam proses politik dan kualitas pendidikan yang rendah.

Maxwell (2007) menggunakan istilah kemiskinan untuk menggambarkan keterbatasan pendapatan dan konsumsi, keterbelakangan derajat dan martabat manusia, ketersingkiran social, keadaan yang menderita karena sakit, kurangnya kemampuan dan ketidak berfungsian fisi untuk bekerja, kerentanan, tiadanya keberlanjutan sumber kehidupan, tidak terpenuhinya kebutuhan dasar, dan adanya perampasan relatif.

Konferensi dunia untuk pembangunan social telah mendefinisikan kemiskinan sebagai berikut: kemiskinan memiliki wujud yang majemuk, termasuk rendahnya tingkat pendapatan dan sumber daya produktif yang menjamin kehidupan berkesinambung. Kemiskinan juga dicirikan oleh rendahnya tingkat partisipasi dalam proses pengambilan keputusan dalam kehidupan sipil dan social budaya.

Faktor penyebab kemiskinan, faktor yang berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap perubahan kemiskinan. Sebagai contoh sering dikatakan bahwa salah satu penyebab kemiskinan adalah tingkat pendidikan yang rendah. Seseorang dengan tingkat pendidikan hanya SD, misalnya sangat sulit mendapatkan pekerjaan terutama dalam sektor modern , (formal) dengan pendapatan yang baik. Berarti penyebab kemiskinan bukan hanya pendidikan yang rendah, tetapi tingkat gaji/upah yang berbeda.
Kalau diuraikan satu persatu, jumlah faktor yang dapat dipengaruhi, langsung maupun tidak langsung, tingkat kemiskinan cukup banyak, mulai dari tingkat dan laju pertumbuhan output (atau produktifitas), tingkat upah neto, distribusi pendapatan, kesempatan kerja, jenis pekerjaan yang tersedia, inflasi, pajak dan subsidi, investasi, alokasi serta kualitas sumber daya alam, penggunaan teknologi, tingkat dan jenis pendidikan, kondisi fisik dan alam disuatu wilayah, etos kerja dan motivasi pekerja, kultur/budaya atau tradisi, hingga politik, bencana alam, dan peperangan. Kalau diamati, sebagian besar faktor tersebut juga saling mempengaruhi satu sama lain. Misalnya dari pekerja yang bersangkutan sehingga produktifitasnya menurun. Produktifitas menurun selanjutnya dapat mengakibatkan tingkat upah netonya berkurang, dan seterusnya. Jadi, dalam kasus ini, tidak mudah untuk memastikan apakah karena pajak naik atau produktifitasnya yang turun membuat pekerja tersebut menjadi miskin karena upah netonya menjadi rendah.



Sumber :















Minggu, 25 Maret 2012

Peta Ekonomi Indonesia

Peta Ekonomi Indonesia


1.Letak geografis adalah letak suatu negara dilihat dari kenyataan di permukaan bumi. Menurut letak geografisnya Indonesia terletak diantara dua benua, yakni Asia dan Australia, dan diantara dua samudra, yaitu samudra Hindia dan samudra Pasifik.

Indonesia memiliki sekitar 17.504 pulau, dan sekitar 6000 diantaranya tidak berpenghuni tetap, atau menyebar sekitar khatulistiwa. Pulau terpadat penduduknya yaitu pulau Jawa, jumlahnya sekitar 65% populasi Indonesia. 5 pulau besar di Indonesia: Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya.
Indonesia memiliki lebih dari 400 gunung berapi dan 130 diantaranya gunung berapi aktif. Sebagian dari gunung berapi terletak di dasar laut dan tidak terlihat dari permukaan laut. Indonesia merupakan tempat pertemuan 2 rangkaian gunung berapi aktif (Ring of Fire). Terdapat puluhan patahan aktif di wilayah Indonesia.
Ada 2 musim di Indonesia yaitu musim hujan dan kemarau. Curah hujan di Indonesia rata-rata 1.600 mm setahun, namun juga sangat bervariasi

Indonesia juga mempunyai sumber pertambangan yang sangat berharga, yaitu minyak gas alam, batu bara, timah, tembaga, dan lain-lain.

2. Mata pencaharian masyarakat Indonesia beragam karena letak geografis dan letak ketinggian itu berbeda. Ada yang bermatapencaharian di bidang pertanian, pertenakan, perkebunan dan perikanan. Dan yang hidup di kota berkerja di kantoran.
Perbedaan mata pencaharian antara di kota dengan di desa, dilihat dari lingkungan lahan di pedesaan sebagian besar digunakan untuk pertanian, sedangkan dikota sudah tidak ada lahan yang digunakan untuk penghijauan. Lahan-lahan di perkotaan banyak digunakan untuk pembangunan gedung-gedung bertingkat, perumahan elit, dan mall-mall besar. Hal ini, dikarenakan daerah perkotaan telah mengalami pengaruh globalisasi yang menyebabkan tingkat perekonomian di kota juga meningkat.

3. Sumber daya manusia atau biasa disingkat menjadi SDM potensi yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang adaptif dan transformatif yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di alam menuju tercapainya kesejahteraan kehidupan dalam tatanan yang seimbang dan berkelanjutan.
Tiga masalah pokok yang dihadapi Indonesia dalam sumber daya manusia sebagai berikut :
  1. Pertumbuhan yang cukup tinggi , ditandai dengan besarnya jumlah penduduk
  2. Penyebaran yang kurang merata
  3. Kurang seimbangnya struktur umur penduduk , yang ditandai dengan besarnya jumlah penduduk berusia muda serta mutu /kualitas penduduk yang relatif rendah
Berikut yang terkait dengan sumber daya manusia:
  • Laju pertumbuhan penduduk: Jumlah penduduk setiap saat dapat bertambah ataupun berkurang, dan bisa juga tetap. Faktor yang mempengaruhi bertambahnya jumlah penduduk yaitu: a. faktor alami (natural increase), yaitu kelahiran dan kematian: b. faktor sosial (social increase).
  • Faktor-faktor yang mempengaruhi penyebaran dan kepadatan penduduk tiap-tiap daerah atau negara sebagai berikut:
1. Faktor Fisiografis
2. Faktor Biologis
3. Faktor Kebudayaan dan Teknologi
  • Angkatan kerja
    Adalah penduduk usia produktif yang berusia 15-64 tahun yang sudah mempunyai pekerjaan tetapi sementara tidak bekerja, maupun yang sedang aktif mencari pekerjaan.
  • Sistem pendidikan

4. Investasi, yaitu penanaman modal untuk satu atau lebih aktiva yang dimiliki dan biasanya berjangka waktu lama dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa-masa yang akan datang.








Strategi Dan Perencanaan Pembangunan Di Indonesia

Strategi Dan Perencanaan Pembangunan di Indonesia

    Pembangunan ekonomi memberikan perhatian yang luas terhadap keunikan karakteristik wilayah (ruang). Misalnya terhadap sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber daya buatan/ infrastruktur dan kondisi kegiatan usaha dari masing-masing daerah di Indonesia (termasuk diantara faktor-faktor produksi yang dimiliki) yang merupakan acuan dasar bagi perumusan upaya pembangunan nasional.


    Strategi pembangunan yang dapat dipilih, yaitu:
1. strategi pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan dengan tujuan pokok untuk meningkatkan GNP
2. strategi pembangunan yang berorientasi pada penciptaan lapangan kerja dengan sasaran peningkatan kesempatan kerja yang produktif dan meningkatkan redistribusi pendapatan
3. strategi pembangunan yang berorientasi pada penghapusan kemiskinan dan peningkatan kesempatan kerja
4. strategi pembangunan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar (The Basic Necessity Oriented)
Semua strategi pembangunan tersebut bertujuan pada perbaikan kualitas hidup, peningkatan produksi barang-barang dan jasa-jasa, penciptaan lapangan kerja baru dengan upah yang sesuai dengan harapan tercapainya tingkat hidup minimal untuk semua rumah tangga sampai batas maksimal.
    
    Faktor yang mempengaruhi strategi pembangunan yaitu:
1. berdasarkan tujuan yang hendak dicapai, jika yang ingin dicapai adalah tingkat pertumbuhan yang tinggi maka faktor yang mempengaruhi digunakannya strategi tersebut adalah tingkat pertumbuhan ekonomi yang rendah
2. akumulasi kapital yang rendah
3. tingkat pendapatan pada kapital yang rendah
4. masalah ekonomi yang berat ke sektor tradisional yang kurang berkembang

    Strategi yang diberlakukan pada dasarnya adalah strategi pertumbuhan yang didasarkan pada ke Indonesiaan.Yaitu tidak mungkin dicapai jka tingkat hyperinflasi tidak dikehendaki terlebih dahulu. Maka pemerintah Indonesia memberlakukan kebijaksanaan stabilitasi dan rehabilitasi.
Strategi yang diberlakukan:
1. Semakin meningkatnya ketentuan Pusat dan daerah untuk membiayai pembangunan di daerah yang sifatnya padat karya
2. Kebijaksanaan pemerintah dalam bidang perkreditan khususnya sejak diperkenalkannya KIK / KMK
3. Perhatian yang besar terhadap koperasi khususnya pada KUD.
 

Sementara itu sejak Repelita II, strategi pembangunan wilayah di Indonesia secara tegas ditekankan dengan dibaginya wilayah Indonesia menjadi 4 (empat) wilayah pembangunan, yaitu :

Wilayah Pembangunan I (WP I)
Wilayah Pembangunan II (WP II)
Wilayah Pembangunan III(WP III)
Wilayah Pembangunan VI (WP VI)

    Perencanaan pembangunan adalah upaya untuk mengantisipasi ketidak seimbangan yang terjadi yang bersifat akumulatif atau sebagai peran arahan bagi proses pembangunan untuk berjalan menuju tujuan yang ingin dicapai sebagai tolak ukur keberhasilan proses pembangunan.

Manfaat perencanaan pembangunan menurut  Bintoro Tjokromidjojo:
1. Dengan adanya perencanaan diharapkan terdapatnya suatu persyaratan kegiatan, adanya pedoman bagi pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang ditujukan kepada pencapaian tujuan pembangunan
2. Dengan perencanaan maka dapat dilakukan suatu perkiraan terhadap hal-hal dalam masa pelaksanaan yang akan dilalui
3. memberikan kesempatan untuk memilih berbagai alternatif tentang cara yang terbaik atau kesempatan untuk memilih kombinasi cara yang terbaik
4. dapat dilakukan penyusunan skala prioritas
5. akan ada suatu alat pengukur untuk mengadakan suatu pengawasan dan evaluasi
 

Dalam sejarah perkembangannya, perencanaan pembangunan ekonomi Indonesia dibagi dalam beberapa periode, yakni :
    Periode Orde Baru, dibagi dalam :
    • Periode 1945 – 1950
    • Periode 1951 – 1955
    • Periode 1956 – 1960
    • Periode 1961 – 1966

    Periode Setelah Orde Baru dibagi dalam :
    • Periode 1966 s/d periode stabilisasi dan rehabilitasi
    • Periode Repelita I : 1969/70 – 1973/74
    • Periode Repelita II : 1974/75 – 1978/79
    • Periode Repelita III : 1979/80 – 1983/84
    • Periode Repelita IV : 1984/85 – 1988/89
    • Periode Repelita V : 1989/90 – 1993/94





Sumber:

http://ikemurwanti.blogspot.com/2011/05/faktor-faktor-yang-mempengaruhi.html
http://tarymagetan.wordpress.com/2011/03/19/strategi-dan-perencanaan-pembangunan-indonesia-dimasa-yang-akan-datang/
http://ikasamsumantri.wordpress.com/2011/03/23/strategi-perencanaan-pembangunan-perekonomian-indonesia/
http://andamifardela.wordpress.com/2011/05/13/perkembangan-strategi-dan-perencanaan-pembangunan-ekonomi-indonesia/
http://khastuti.blogspot.com/2012/03/perkembangan-strategi-dan-perencanaan_23.html